Jumat, 25 Mei 2012

Arsitek meniru?

10 Mei 2007

Gambar dari 'Russian Posters Exhibition' diadakan oleh toko buku Toga Mas
Melalui media, satuan penyebaran budaya semakin mudah ditularkan. Plagiarisme sangat dimudahkan.







Begitu mudahkah sebuah hasil karya atau pemikiran diduplikasi dan diklaim sebagai milik pribadi? 


Karya arsitektur juga rentan terhadap peniruan, karena saat ini semakin memungkinkan. Mungkin kita semua juga pernah mendapati memperhatikan karya arsitek, yang sepertinya memiliki kesamaan dengan karya arsitek terkenal, namun ketika diberi pertanyaan tentang itu, jawabannya tentu saja sangat dangkal, karena tidak berasal dari proses pemikiran yang dilaluinya.


Entahlah, hingga kapan pertanyaan 'sejauh mana' peniruan atau plagiarisme itu dihalalkan... Apakah dengan merombak suatu susunan penulisan, kemudian menyusun kembali dalam format baru bukan merupakan plagiarisme? Atau apakah dalam desain, melihat hasil akhir dari proses ber-arsitektur dari arsitek lain dan menggubah kembali dalam bentukan baru yang nyaris sama, bisa dikatakan plagiarisme? 


Proses itu yang penting. Proses untuk sampai hingga suatu karya hadir dan memiliki makna tidak mudah dijalani semudah copy and paste. Proses berpikir memang tidak mudah, dan karenanya menjadi berharga. Namun kadangkala hasil dari proses berpikir itu tidak bisa ditransfer begitu saja kedalam kepala orang lain dengan mudah. Bila dipaksakan tidak akan sepenuhnya dipahami. Arsitektur sebagai suatu bagian dari ekspresi seni, tidak bisa pula dengan mudah dihasilkan hanya dengan proses plagiarisme, seakan meloncat menuju hasil yang diharapkan, yang seharusnya memiliki makna lebih daripada itu. Lukisan Monalisa yang asli bisa jadi direproduksi, namun nilainya tidak sama. Bila kita coba memperhatikan, apa yang membuat seorang arsitek menjadi besar, seperti Frank Lloyd Wright, Le Corbusier, Romo Mangun, dan sebagainya, terdapat proses yang mereka jalani, dan itu tentu saja tidak muncul begitu saja menjadi karya-karya yang monumental dan dikenal dunia. Proses itu yang mengiring langkah mereka menjadi besar, setelah tentu saja sebelumnya mengalami try and error yang teramat banyak.


Fenomena munculnya berbagai majalah, buku, tayangan televisi dan sebagainya memang dengan sangat mudah menyebarkan bentuk-bentuk karya yang dapat diapresiasi dengan hanya membayar sekian ribu rupiah. Namun, apakah memberikan keleluasaan untuk menyadur karya (tanpa proses di jalani sebelumnya)? Boleh jadi berhasil memperhatikan sebuah karya avant garde dari seorang arsitek yang muncul dalam majalah, buku dan sebagainya, lalu mengambil bentukan kasat mata dan meletakkannya dalam desain yang di rancang. Itu sangat memungkinkan. Namun itu dangkal dan bila semakin nyaman melakukannya, arsitek tidak akan lebih dari seorang pengekor karya. Atau mungkinkah begitu banyak desain yang dihasilkan hanya berdasarkan tren semata menjadikan tidak ada lagi yang otentik? Jangan-jangan sudah menjadi hal yang sangat biasa sehingga kita tidak lagi memperhatikan?


Seorang arsitek adalah manusia, dan manusia memiliki potensi yang tidak sama antara satu dengan yang lain. Potensi yang berbeda itu adalah anugerah Sang Pencipta, yang menjadikan setiap orang unik. Arsitek dengan potensi yang dimilikinya, pandangannya tentang kehidupan dan arsitektur, perasaannya akan sebuah karya, akan memberikan sentuhan yang berbeda yang otentik. Karena itu, mari berkarya.
*****


04 Agustus 2008
Catatan lanjutan:
Setelah menulis, memperhatikan dan memahami dalam kurun waktu lebih dari setahun sejak penulisan artikel ini, dan 3 tahun berjibaku hingga Agustus 2008 ini, kami berpendapat bahwa sebuah karya arsitektur itu tidak pernah bisa lepas dari berbagai pengaruh. Hampir tidak mungkin menemukan konsep yang benar-benar baru, kecuali kita dapat mengembangkan sebuah riset teknologi baru atau semacam itu. Namun, peran arsitektur dalam hidup manusia menjadi spesifik dan tidak sama karena pada dasarnya setiap bangunan terikat dengan ruang dan waktu ia berada. Seandainya sebuah bangunan diplagiatkan 100%, atau dipindahkan ke tempat yang baru, maka itupun juta tidak akan memberikan kesan yang sama. Plagiarisme dalam arsitektur tidak akan berhasil, karena ia tidak sebuah kreativitas yang berkaitan dengan tempat, wadah, media sebuah karya arsitektur.



*****


25 Mei 2012
Catatan lanjutan:
Pertama manusia meniru alam, untuk mengetahui gejala dan cara beradaptasi dengannya. Arsitektur pertama kali dibuat untuk mengatasi alam dan karena itu merupakan peniruan yang tak ada henti-hentinya. Adaptasi merupakan kata yang paling tepat untuk mengadakan peniruan yang digubah. Tidak ada yang benar-benar baru. Menemukan sebuah arsitektur yang otentik memerlukan pemahaman yang luas akan berbagai fenomena dalam berarsitektur. Pada titik ini, kami menemukan bahwa seiring waktu dan pengalaman, tidak mudah untuk menjadi otentik, namun menggubah adalah hal yang paling lazim.


________________________________________________
by Probo Hindarto
© Copyright 2008 astudio Indonesia. All rights reserved.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...