JOIN US

Lowongan Kerja. Dibutuhkan asisten Arsitek. Pria. Domisili di Malang. Menguasai Sketchup tingkat lanjut dan dasar desain yang baik. Familiar dengan AutoCAD. Bisa bekerja serius dan fun, baik sendiri maupun dalam tim, komitmen, disiplin, bertanggung jawab, dapat bekerja dibawah tekanan. Silahkan kirimkan CV ke astudioarchitect.com@gmail.com

Sabtu, 06 September 2008

Kreativitas vs Batasan (vs; the right term??)

6 April 2006


ada kebebasan... ada batasan


“Bu, kenapa sih, seni itu harus dibatasi? Kan kita jadi nggak bisa kreatif mengeluarkan ide-ide kita?” tanya seorang mahasiswa dengan nada sedikit memprotes, ”Padahal sebagai calon arsitek kita harus kreatif kan? Kalo dibatas-batasi, gimana karya kita bisa bagus jadinya??” lanjutnya lagi.


2
Saat itu, topik pembahasan ’Arsitektur dan Kebudayaan’ yang saya sampaikan di matakuliah Arsitektur Pramodern rupanya berkembang menjadi diskusi yang cukup hangat antara saya dan para mahasiswa. Banyak hal kami bahas, terutama mengenai keterkaitan peradaban dan arsitektur, perbedaan filosofi Timur dan Barat, perkembangan worldview bangsa-bangsa di dunia, sampai pada keterkaitan dan jalinan empat instrumen dalam diri manusia (iman, akal, rasa dan etika) untuk memahami kebenaran. Saya jelaskan bahwa keilmuan, apapun bentuknya, tidak dapat benar-benar terlepas dari iman dan etika, juga estetika, walaupun instrumen utama yang banyak digunakan dalam keilmuan manusia adalah akal. Karenanya, saat ini muncul ilmu bioetika dan sejenisnya yang mengkaji keterkaitan ilmu dan etika. Begitu pula dengan seni yang tidak dapat bergerak semaunya tanpa batasan etika, seperti yang akhir-akhir ini ramai dibahas di media massa.

Sambil perlahan menarik nafas panjang, saya berusaha mencari jawaban yang cukup sederhana dan dapat mengena ke dalam alur logika mereka. Hal yang sangat sulit saya rasa, karena sebagai tenaga pengajar yang masih harus banyak belajar, saya seringkali terkaget-kaget dalam hati dengan pertanyaan mahasiswa yang beraneka ragam.^_^. Feeling saya mengatakan hal ini cukup sensitif, karena ketidakmampuan atau kesalahan saya dalam menjawab akan berakibat cukup fatal bagi si penanya, juga bagi mahasiswa lainnya.

”Sekarang saya beri kalian satu tugas, tolong kalian kerjakan,” kata saya akhirnya. ”Kalian saya beri tugas merancang apa saja, di mana saja, kapan saja, bagaimanapun bentuknya, berapa saja, dan dikumpulkan terserah saja” kata saya sambil tersenyum melihat banyak dari mereka bengong dengan tugas aneh yang saya berikan. Setelah satu menit dalam kesunyian, akhirnya salah satu dari mereka dengan cukup kocak memecahkan keheningan dengan berkata, ”Waah, bingung atuh Bu, tugas kok bebas banget kaya’ gitu?? Lah, terus kita harus merancang apa? Ruangannya apa-apa aja? Kok nggak ada keterangan lokasi, luas lahan dan tema perancangannya Bu??”

Sambil menahan geli, saya berkata, ”Ooo, jadi kalian minta batasan yaa?”. Ketika menyapukan pandangan ke seluruh mahasiswa, saya menangkap beberapa di antara mereka telah mengerti dengan alur logika yang saya tawarkan pada mereka, namun beberapa lainnya tampaknya memerlukan pembahasan lebih jauh akan hal ini.

Saya lalu menerangkan bahwa batasan tidak bermakna negatif dalam kreativitas dan seni. Batasan justru kita butuhkan untuk menguji kreativitas berbuat dan berkarya di dalam koridor tertentu. ”Creativity is how we manage things in constraints”, kata Prof. Sandi A. Siregar, Guru Besar Jurusan Arsitektur Universitas Parahyangan Bandung, dalam acara Workshop Kurikulum Jurusan Teknik Arsitektur UIN Malang, akhir Maret 2007 lalu. Apakah batasan merupakan wujud pengekangan kreativitas? Tentu saja tidak. Seseorang dianggap kreatif jika mampu berbuat sesuatu di dalam batasan yang ada. Jika ia mampu berbuat sesuatu dengan kebebasan yang mutlak, maka tidak ada kreativitas di dalamnya, itu biasa saja namanya.

Seperti halnya ilmu yang tidak bebas nilai, begitu pula halnya seni. Sebagai contoh, dalam pandangan ilmu, tidak ada yang salah jika seorang peneliti hendak meneliti aktivitas manusia di dalam kamar mandi. Ilmu ini tentu saja bermanfaat untuk merancang kamar mandi yang sesuai dengan aktivitas manusia di dalamnya. Walaupun demikian, dari sudut pandang etika, jika kita meneliti dengan cara memasang kamera tersembunyi (karena pasti sangat sulit menemukan sampel penelitian yang dengan sukarela mempertontonkan aktivitasnya itu di depan kamera, kan?), tentu saja hal ini tidak dapat dibenarkan. Lalu di mana letak kreativitasnya? Dalam hal ini, batasan etika berfungsi memacu akal untuk mengeksplorasi cara dan kemungkinan yang lebih baik dalam melakukan penelitian, misalnya dengan simulasi komputer berdasarkan data-data ergonomi dan hasil wawancara dengan sampel penelitian. Di sinilah kreativitas dibutuhkan, ia adalah kemampuan manusia untuk tetap dapat berbuat sesuatu di tengah batasan, dengan tidak melanggar batasan-batasan itu.

Melihat kembali ke sejarah masa lalu, terdapat contoh yang sesuai dengan ini. Dalam khasanah arsitektur Islam, adanya batasan untuk tidak menggambarkan figur manusia atau hewan di dalam seni, terlepas dari adanya perbedaan pendapat mengenai hal ini, ternyata ditanggapi secara positif oleh para seniman dan arsitek muslim di awal perkembangan peradaban Islam.

Dengan eksplorasi kreativitas yang intensif di dalam koridor nilai-nilai Islam, seniman islam berhasil mengembangkan suatu ragam seni dekorasi tersendiri yang sangat unik dan estetik. Struktur arabesque, atau pola dekoratif tak terbatas dengan tingkat kerumitan dan keindahan yang sangat tinggi, bahkan memiliki nilai plus dalam kandungan makna dan nilai yang berkaitan dengan nilai-nilai ketauhidan.

”Jika seorang pemain sepakbola dapat memasukkan gol ke gawang yang tidak dijaga, di dalam suatu permainan yang tidak diawasi oleh wasit, dan tidak diimbangi dengan lawan main sejumlah 11 orang, apakah ia bisa dianggap hebat?” tanya saya sambil mengakhiri diskusi hari itu dengan sebuah pertanyaan yang pernah saya baca di salah satu majalah, ”Tidak kan? Ia hanya akan dianggap hebat jika ia mampu membuat gol di tengah pertandingan yang dibatasi oleh waktu yang sempit, peraturan yang mengikat dan pengawasan wasit yang ketat, serta dengan lawan main yang seimbang.”

Penulis:
Yulia Eka Putrie
(Dosen Jurusan Teknik Arsitektur Universitas Islam Negeri (UIN) Malang)

________________________________________________
© Copyright 2008 astudio Indonesia. All rights reserved.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...